Postingan

Kapan Terakhirnya

 Setelah berkeliling rumah mencari handphone nya -yang setelah disadari selama ini ada disamping tempat ia duduk- kemudian Suami bercerita, "Dulu aku pernah bertanya ke teman-teman, kok gw suka pelupa ya? lalu coba tebak apa jawab teman-teman ?" "Itu karena lo kurang tilawah, Mon. Sama aja kaya tiba-tiba lo hari itu banyak omong, berarti kurang tilawah" "Itu karena kurang baca Al-Matsurat, Mon." "Kurang sholat dhuha lo, ah percuma dong gua tiap pagi kirim reminder ." ......... "Seneng ya, punya teman yang selalu ingatkan kita kepada kebaikan." Lalu kami berdua terdiam, seolah sama sama menyadari bahwa sudah lama sekali kami tidak mendengar respon seperti ini disekeliling kami. Kapan terakhirnya... kami memiliki teman dan menjadi teman yang selalu menasehati dan menolong dalam kebaikan ? ...... Setidaknya, mari selalu saling mengingatkan di antara kita berdua :)

Respect

Respect adalah buah dari akhlak yang baik. Seperti petrichor yang ditinggalkan hujan di atas tanah kering. Respect hadir atas keluhuran lisan dan keanggunan laku. Terpancar sendiri tanpa dibuat buat, tak perlu banyak dihias, karena hanya bunga asli yang mengundang lebah untuk singgah.

Serbuk Sari

Jika ada yang berkata "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" jangan lupa juga bahwa serbuk sari bisa terbawa jauh dari bunga nya. Artinya, tidak ada gen kromosom yang dapat 100% mewarisi sifat dan sikap. Seorang dewasa sudah seharusnya bisa menentukan sifat dan sikap nya sendiri dan bertanggung jawab sendiri atas pilihan yang diambil. Seorang dewasa tidak seharusnya bertameng pada kondisi leluhur nya, sehingga terjebak pada stigma "saya seperti ini karena orang tua saya seperti ini". Seorang dewasa juga seharusnya tidak memberi stigma "orang tuanya begini, pasti anaknya juga begini" Maka "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" bukan sebuah kemutlakan. Adakalanya pada beberapa kondisi kita harus menjadi serbuk sari yang terbawa jauh dari bunga nya. Wallahu'alam

Teman

  “Shadiqaka man shadaqaka laa man shaddaqaka” “Sahabat sejati-mu adalah yang senantiasa jujur (kalau salah diingatkan), bukan yang senantiasa membenarkanmu” Bagaimana kalo kita berteman bukan hanya dalam zona nyaman nyamanan ? Bukan hanya mengiyakan yang penting senang ? Bagaimana kalo kita jadikan pertemanan ini jangka panjang ? Sampai ke surga ? Maka mari berteman dalam zona keimanan. Tegurlah jika salah, ingatkan jika lupa, saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Jangan pemaklumam selalu jadi alasan. Apa pertemanan kita hanya sebatas urusan dunia ? Cuma segitu aja ? Sayang sekali.

Jati Diri

Di sebuah pekarangan rumah tetangga, ada dua pohon yang hidup bersama disana. Pohon dari dua jenis buah yang berteman akrab. Sebut saja Guava-san dan Mango-san. Mereka lahir dari latar belakang yang kontras. Mereka berbeda spesies, genus, famili, ordo, bahkan kualitas diri mereka pun sangat berbeda. Yang sama hanya, mereka sama sama Plantae. Mango-san, secara fisik dia sangat biasa, tidak mencolok, tidak berbatang besar dan tinggi, daunnya juga tidak rimbun, semua biasa. Tetapi Mango-san adalah simbol keparipurnaan buah pekarangan. Dia selalu menghasilkan buah yang sempurna rasa dan bentuknya. Pasokan gizi yang diberikan majikannya selalu dimanfaatkannya untuk menjadi buah yang layak atas kasih sayang berlimpah dari majikannya. Asas kebermanfaatan nenjadi moto hidupnya. Tidak ada keluh kesah dalam hidupnya. Dia meyakini bahwa tindak tanduknya akan ada akibat dan balasannya. Dia telah memilih, menjadi buah yang baik adalah jalan ninjanya. Dia merasa begitulah seharusnya jati diri sebua...

Sudut Pandang

Waktu sekolah, di Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, saya pernah belajar tentang bagaimana menentukan sudut pandang dalam sebuah cerita. Ada 6 jenis sudut pandang, dengan lebih banyak lagi pembagian di setiap jenisnya. Tetapi yang menjadi perhatian saya hanya dua. Sudut pandang orang pertama, dimana penulis fokus kepada sudut pandang sebagai "Aku", baik sebagai tokoh utama atau tokoh sampingan. Sedangkan sudut pandang orang kedua, dimana penulis sebagai narator yang mendiktekan lakon "Kamu". Waktu kuliah saya baru sadar bahwa sudut pandang tidak hanya ada dalam sebuah karya sastra. Tetapi harus ada dalam sebuah kehidupan. Wabilkhusus dalam menentukan sudut pandang dalam menjalani peran. Akhir-akhir ini saya (juga baru sadar) bahwa mungkin saya, kita, sering lupa dimana meletakkan sudut pandang dalam peran yang sedang dilakoni. Tidak jarang, kita menggunakan sudut pandang orang kedua, fokus kepada "Kamu" alias fokus kepada orang lain, atau lebih tepatnya ...

Seharusnya

Qodarullah. Siapa yang kira 2020 kita hadapi bersama pandemi. Qodarullah. Banyak rencana batal ya ? Iya. Mudik ? Iya, betul. Tiket sudah di- refund semua. Harus ikhlas tidak berlebaran bersama orang tua tahun ini. Qodarullah. Sampai suatu hari, dimana "yang seharusnya" adalah hari keberangkatan kami ke Tuban menaiki Kereta Api, tidak hanya sekali saya ngebatin... "Seharusnya udah di kereta nih jam segini" Tetapi setelah ngebatin saya merasa ada yang salah. Ada yang salah dengan apa yang saya pikirkan saat ini. Baru saya sadar, bahwa saya tidak punya hak untuk berkata "seharusnya" "Seharusnya" menurut siapa ? Apakah saya punya kuasa menentukan kapan saya pergi, kapan saya pulang ? Baik, secara teknis memang iya. Tetapi, saya seakan lupa, bahwa saya hanya manusia dalam kuasa Zat Maha Kuasa. Sedih memang jika rencana tidak berjalan sesuai harapan, tetapi dengan mengatakan "seharusnya" , seakan saya tidak ridho atas apa yan...