Sudut Pandang
Waktu sekolah, di Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, saya pernah belajar tentang bagaimana menentukan sudut pandang dalam sebuah cerita.
Ada 6 jenis sudut pandang, dengan lebih banyak lagi pembagian di setiap jenisnya. Tetapi yang menjadi perhatian saya hanya dua.
Sudut pandang orang pertama, dimana penulis fokus kepada sudut pandang sebagai "Aku", baik sebagai tokoh utama atau tokoh sampingan. Sedangkan sudut pandang orang kedua, dimana penulis sebagai narator yang mendiktekan lakon "Kamu".
Waktu kuliah saya baru sadar bahwa sudut pandang tidak hanya ada dalam sebuah karya sastra. Tetapi harus ada dalam sebuah kehidupan. Wabilkhusus dalam menentukan sudut pandang dalam menjalani peran.
Akhir-akhir ini saya (juga baru sadar) bahwa mungkin saya, kita, sering lupa dimana meletakkan sudut pandang dalam peran yang sedang dilakoni. Tidak jarang, kita menggunakan sudut pandang orang kedua, fokus kepada "Kamu" alias fokus kepada orang lain, atau lebih tepatnya fokus kepada "apa yang seharusnya orang lain lakukan" bukan fokus kepada "apa yang seharusnya saya lakukan"
Misalnya,
Dalam hubungan suami istri. Si istri menuntut suami menjadi suami sempurna dengan mengeluarkan segala macam landasan Al Quran, Hadist, quotes pakar psikologi, pakar parenting, kata-kata mutiara, bagaimana seharusnya menjadi seorang suami. Sebaliknya, Si suami pun demikian kepada istri. Apakah ini buruk ? Ya, jika masing-masing pribadi berlebihan dalam menggunakan sudut pandang orang kedua, fokus pada lawan peran, dengan mengabaikan perannya sendiri. Hasilnya semua peran hanya akan 'menuntut' tanpa ada instrospeksi.
Memang sebaiknya, literatur atau tips menjadi suami yang baik untuk dipedomani oleh si suami. Sebaliknya literatur dan tips menjadi istri yang baik dipedomani oleh si istri. Fokus kepada "Aku". Salahkah mempelajari literatur lawan peran ? Tidak, sebagai referensi, tolak ukur, bahan diskusi untuk saling nasehat menasehati dengan cara yang baik. Bukan untuk menjadi bahan tuntutan.
Bukan hanya dalam kehidupan rumah tangga aja, tetapi dalam semua hubungan. Antara anak dan orang tua, antara orang yang berhutang dan dihutangi, antara orang yang memberi dan diberi, antara pemimpin dan yang dipimpin, antara penjual dan pembeli, dan banyak lainnya. Jangan sampai salah mempedomani literatur, jangan sampai salah sudut pandang. Sepertinya dengan begitu kita akan hidup lebih damai.
Itulah kira kira hasil renungan panjang. Apakah sudah berhasil mempraktikannya ? Belum 😅 karena bagi saya ini tidak mudah. Bagai peribahasa, gajah di pelupuk mata tampak, semut di seberang lautan tak tampak.
Tetapi sulit bukan berarti tidak bisa. Karena menurut saya ini adalah salah satu cara agar seorang manusia menjadi pribadi Qolbun Salim, yang hatinya selamat. Semoga Allah mudahkan. Aamiin.
Wallahu'alam
Komentar
Posting Komentar