Seharusnya
Siapa yang kira 2020 kita hadapi bersama pandemi.
Qodarullah.
Banyak rencana batal ya ?
Iya.
Mudik ?
Iya, betul.
Tiket sudah di-refund semua. Harus ikhlas tidak berlebaran bersama orang tua tahun ini.
Qodarullah.
Sampai suatu hari, dimana "yang seharusnya" adalah hari keberangkatan kami ke Tuban menaiki Kereta Api, tidak hanya sekali saya ngebatin...
"Seharusnya udah di kereta nih jam segini"
Tetapi setelah ngebatin saya merasa ada yang salah. Ada yang salah dengan apa yang saya pikirkan saat ini.
Baru saya sadar, bahwa saya tidak punya hak untuk berkata "seharusnya"
"Seharusnya" menurut siapa ? Apakah saya punya kuasa menentukan kapan saya pergi, kapan saya pulang ? Baik, secara teknis memang iya. Tetapi, saya seakan lupa, bahwa saya hanya manusia dalam kuasa Zat Maha Kuasa.
Sedih memang jika rencana tidak berjalan sesuai harapan, tetapi dengan mengatakan "seharusnya" , seakan saya tidak ridho atas apa yang Allah tetapkan untuk terjadi, lupa bahwa apa yang terjadi pada diri saya hari ini sudah Allah tetapkan sebelum saya hadir di dunia ini.
Dengan mengatakan "seharusnya" seakan saya tahu bahwa rencana saya adalah rencana yang pasti baik. Padahal saya juga paham, bahwa rencana Allah lah yang terbaik.
“Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kenaikan" (An Nisa:19)
Komentar
Posting Komentar