Jati Diri
Di sebuah pekarangan rumah tetangga, ada dua pohon yang hidup bersama disana. Pohon dari dua jenis buah yang berteman akrab. Sebut saja Guava-san dan Mango-san. Mereka lahir dari latar belakang yang kontras. Mereka berbeda spesies, genus, famili, ordo, bahkan kualitas diri mereka pun sangat berbeda. Yang sama hanya, mereka sama sama Plantae.
Mango-san, secara fisik dia sangat biasa, tidak mencolok, tidak berbatang besar dan tinggi, daunnya juga tidak rimbun, semua biasa. Tetapi Mango-san adalah simbol keparipurnaan buah pekarangan. Dia selalu menghasilkan buah yang sempurna rasa dan bentuknya. Pasokan gizi yang diberikan majikannya selalu dimanfaatkannya untuk menjadi buah yang layak atas kasih sayang berlimpah dari majikannya. Asas kebermanfaatan nenjadi moto hidupnya. Tidak ada keluh kesah dalam hidupnya. Dia meyakini bahwa tindak tanduknya akan ada akibat dan balasannya. Dia telah memilih, menjadi buah yang baik adalah jalan ninjanya. Dia merasa begitulah seharusnya jati diri sebuah Plantae.
Guava-san, dia memiliki fisik yang lebih mencolok dari Mango-san. Memiliki batang tinggi dan bercabang banyak, daunnya rimbun, meneduhkan. Tetapi sayangnya dia jarang berbuah. Sekalinya berbuah, tidak bagus hasilnya. Majikan sudah memberikan pasokan gizi terbaik. Tetapi sepertinya Guava-san memang tidak ingin melakukannya. Ternyata dibalik itu semua ada prinsipnya yang nyeleneh. "Apa untungnya memberikan manfaat untuk manusia? " Begitulah jawabannya setiap kali Mango-san bertanya mengapa ia tidak berbuah. Dia merasa dirinya dilahirkan bukan hanya untuk menyenangkan majikannya, dia merasa dia bebas mengekspresikan seperti apa dirinya. Apa-apa yang dilihatnya sedang dilakukan oleh Mango-san, dia selalu menggumam "bukan gua banget" Begitulah, dia merasa memang seperti itu jati dirinya.
Majikan menyayangi mereka. Memberi pasokan gizi yang sama. Memberi afirmasi positif yang sama. Walau yang merespon hanya Mango-san. Pada suatu hari, karena tidak kunjung melihat perubahan pada Guava-san, majikan mulai menyerah. Tidak, majikan bukan ingin menebang Guava-san, bukan pula membiarkan Guava-san mati tidak diberi makan. Majikan hanya seperti mengambil kembali ekspresi kasih sayang yang selama ini ia curahkan untuk Guava-san.
Guava-san yang awalnya merasa biasa saja, kini mulai merasa hampa. Seperti ada jarak yang sangat lebar antara dia dan majikannya. Hingga suatu hari kondisinya semakin terpuruk. Mango-san menyadari hal itu dan meminta izin untuk memberikan nasihat.
"Kau harus berubah, Guava-san. Kembali ke fitrahmu sebagai Plantae, jati diri sejatimu" kata Mango-san.
"Apa maksudmu, aku harus menjadi seperti mu? Yang benar saja, itu bukan diriku, dan aku tidak mau menjadi dirimu" sanggah Guava-san.
"Tidak, bukan begitu. Kembali kepada jati diri sejati mu, kembali kepada fitrahmu, menjadi lebih baik, bukan berarti kau menjadi buah lain" jelas Mango-san.
"Apa maksudmu?" tanya Guava-san
"Apa kau pikir kau akan berubah menjadi buah mangga jika kau merubah dirimu jadi lebih baik ? tanya Mango-san sambil tertawa kecil.
Belum sempat Guava-san menjawab, Mango-san sudah menimpali,
"Jelas tidak, kau tetap menjadi sebuah Jambu. Hanya saja jambu yang naik kelas, bro" kata Mango-san
Berhari hari Guava-san memikirkan perkataan Mango-san. Dan akhirnya dia menetapkan sikapnya. Bahwa dia memang harus berubah. Dia mulai dari me-remake mindset dan prinsipnya, menata tujuan hidupnya. Bukan tanpa halang rintang, dia pun pernah hampir menyerah. Tetapi akhirnya dia berhasil, untuk pertama kalinya Guava-san menghasilkan buah sempurna. Majikan sangat senang melihat Guava-san kembali. Dan Guava-san merasa lebih baik dari sebelumnya, dia merasakan apa yang disebut kepuasan batin.
"Benar kataku bukan ?" Tanya Mango-san.
Guava-san hanya membalas dengan senyum malu.
"Menjadi pribadi yang lebih baik, bukan berarti dirimu menjadi orang lain, bukan berarti tidak menjadi dirimu sendiri. Menjadi diri sendiri adalah menjadi apa yang Rabb-mu tetapkan sebagai jati dirimu sebagai seorang Muslim.
"Setiap anak itu dilahirkan dalam kondisi fitrah (islam). maka hanya kedua orangtua (lingkungan) nyalah yang menjadikan nya seorang yahudi, seorang nasrani, arau seorang majusi".
-Hr. Bukhari-
Waallahu'alam
Komentar
Posting Komentar