Mencari Tempat Mengeluh
Ini adalah sebuah kisah tentang seseorang. Kehidupan sedang mengujinya habis habisan di saat bersamaan. Tidak, dia paham betul bahwa dunia memang ajang pengujian. Dia paham betul tidak ada satupun manusia yang tidak diuji, bahkan jika ujian itu dalam bentuk kesenangan, itupun tetap ujian. Dengan hal yang diyakini nya itu, dia memang tidak pernah terlihat berkeluh kesah. Setidaknya bukan keluhan-keluhan yang serius, hanya sebatas keluhan-keluhan tongkrongan.
Namun, di hari itu, sepertinya dia ingin sekali memuntahkan semua isi perutnya yang selama ini menyimpan segala keluhan dan beban bersama asam lambung. Paru paru nya seperti ingin mengembang hingga meledak karena bom yang selama ini disimpan di antara pertukaran nafasnya. Jantung yang detaknya serasa melambat lantaran racun yang menyusup di aliran darahnya. Ya, dia rasa dia berada pada batasnya untuk menyimpan itu semua.
Otaknya yang masih berfungsi, bekerja bersama adrenalin dan kortisol melacak kepada siapa semua keluhan ini harus disampaikan, sambil bergumam "bukankah manusia memang diciptakan banyak berkeluh kesah, lalu kenapa selama ini harus disimpan mati matian ?" Gerutunya sambil lanjut melakukan screening kepada tiap manusia yang menurutnya dekat dengannya, tetapi ternyata itu tidak mudah.
Ah padahal saat masa muda dia punya banyak sekali teman. Tetapi kenapa saat ini memilih teman bercerita saja sesulit itu.
Siapa yang akan mendengarkannya tanpa menghakiminya sebagai orang yang tidak bersyukur.
Siapa yang akan mendengarkannya tanpa menyesali keputusan yang pernah dia buat.
Siapa yang akan mendengarkannya tanpa menceramahinya.
Siapa yang akan mendengarkannya tanpa takut keluhannya akan tersebar.
Siapa yang akan mendengarkan tanpa menyimpan rasa puas di belakangnya.
Siapa yang akan mendengarnya tanpa harus adu nasib.
Siapa yang akan mendengarnya tanpa jadi tambahan beban pikiran orang lain.
Dan.. Tidak ada... Tidak orang yang seperti itu. Apakah ia sedang berburuk sangka pada orang lain? Bukan. Bahkan jika dirinya ada dua sekalipun mungkin dia tidak juga mampu menjadi orang dengan seluruh kriteria tadi. Dia rasa manusia memang diciptakan untuk mengeluh, tapi tidak selalu mampu menampung seluruh keluhan manusia.
Lalu kenapa manusia diciptakan berkeluh kesah jika manusia lain tidak bisa menjadi tempat keluhan itu berlabuh?
Apa karena memang seharusnya keluhan itu tidak ditujukan kepada manusia? Bahwa pada dasarnya Tuhan yang menciptakan keluh kesah itu sedang menguji, kemana hambaNya akan berkeluh kesah? Bersusah payah mencari manusia yang tepat atau kembali padaNya dengan hati yang paling berserah.
Dia belum menemukan jawabannya saat itu.
Hingga pada suatu hari yang dikenal dengan Hari Arafah, hari yang diketahuinya sebagai salah satu hari dimana doa doa diijabah. Sehabis sholat Dhuha, dia bertekad untuk menumpahkan semua keluhan itu di atas sajadah. Awalnya canggung, apa yang harus disampaikan ya? Tapi kemudian ia beranikan diri memulai dengan kalimat "Ya Allah, aku capek, Kau yang paling tau, tolong aku". Satu kalimat yang mengundang banjir bandang di sudut sudut matanya, satu kalimat yang mengundang banyak paragraf lain yang tersampaikan, non stop. Semua mengalir hari itu.
Dan di hari itu juga, untuk pertama kalinya ia merasa didengar tanpa dipotong.
Tidak diberi ceramah.
Tidak dibandingkan dengan nasib orang lain.
Tidak diingatkan tentang kesalahan-kesalahan masa lalu.
Tidak diminta untuk terlihat kuat.
Ia hanya bercerita, dan terus bercerita.
Lalu ketika semua keluhan itu selesai mengalir, tidak ada suara yang menjawab dari langit. Tidak ada keajaiban yang tiba-tiba menghapus masalahnya.
Tetapi ada sesuatu yang berubah.
Dadanya terasa lebih lapang.
Napasnya terasa lebih panjang.
Dan beban yang sama, entah kenapa, tidak lagi terasa seberat sebelumnya.
Mungkin hari itu ia mulai menemukan jawabannya. Bahwa tidak semua keluhan diciptakan untuk dicarikan telinga manusia. Sebagian memang diciptakan agar menemukan jalan pulangnya kepada Tuhan.
Komentar
Posting Komentar