Laut Bercerita : Suara yang Tidak Dipulangkan dan Luka yang Tidak Diakui

 


27 tahun sudah berlalu, Laut. Mereka masih membiarkan keluarga mu berduka tanpa pusara. 

"Matilah engkau mati, kau akan lahir berkali-kali"

Semoga.....

Yap, akhirnya gue baca juga novel yang sudah banyak direview orang. Bisa dibilang telat sih gue bacanya. Awalnya gue pikir buku ini hanya bercerita tentang kehilangan. Ternyata ia membuka pintu ke sejarah yang belum benar-benar selesai. Dan gue nggak bisa review dengan cara biasa gue review, bre. Karena menurut gue, Bu Leila berusaha menyampaikan pesan yang amat dalam melalui cerita ini - pesan yang cuma bisa benar-benar sampai kalau kita baca sendiri. Jadi di sini gue cuma mau cerita soal pengalaman gue setelah membacanya. Selebihnya, kalian harus rasakan sendiri maksud dari cerita ini.

Buku karya Leila S. Chudori ini adalah fiksi yang berakar pada peristiwa nyata: penculikan aktivis 1998. Biru Laut, tokoh utamanya, adalah salah satu mahasiswa aktivis Winatra. Bersama kawan-kawannya, mereka mencoba melawan gelapnya Orde Baru.

Buku ini dibagi menjadi dua bab besar, dua sudut pandang: Biru Laut dan Asmara Jati.

Sudut pandang pertama adalah sudut pandang Biru Laut. Disini kita akan disajikan rasa sakit yang begitu nyata. Mungkin karena referensi penulisan novel ini adalah peristiwa nyata, ditambah cara Bu Leila mendeskripsikan setiap peristiwa, membawa kita benar benar berada di tahun kejadian. Selama ini, gue tau ada peristiwa penculikan aktivis 97-98, gue tau bahwa sampai saat ini 9 orang dari mereka masih berstatus hilang, tetapi yaudah, begitu saja pengetahuan orang minim literasi seperti gue 😓 Setelah baca buku ini, gue seperti dibangunkan dari pulasnya ketidaktahuan. Gue mulai mencari tahu lebih dalam peristiwa penculikan dan rentetan peristiwa setelahnya dan sampai saat ini. Di situ lah gue berduka sedalam dalamnya atas matinya HAM negeri ini. 

Bab kedua menceritakan sudut pandang Asmara Jati, adik Biru Laut. Siapa yang sangka, perasaan kita bakal diaduk aduk lebih sakit di bab ini. Karena di bab pertama kita disajikan kesakitan yang nyata. Di bab kedua, sakitnya itu gak keliatan, tapi dalam, tak berdasar, dan abadi. Kenapa? Karena ketidakpastian. Bu Leila seolah ingin memberitahu dunia gimana sih rasanya kehilangan anggota keluarga yang tidak diketahui nasibnya. Tidak diberi kepastian apakah keluarga mereka masih hidup atau sudah mati. Mereka dipaksa berharap tanpa asa atau berduka tanpa pusara. Gamang. Kehilangan tanpa ketidakpastian adalah duka yang tidak punya rumah. Dan itu sakit banget rasanya. 

Setelah selesai membaca, rasanya belum benar-benar selesai. Dan dari situ gue sadar, ternyata diam dan ketidaktahuan gue selama ini adalah bagian dari masalah. Setelah selesai membaca, pandangan kita akan berbeda dari sebelumnya. Mungkin ini cara penulis merawat ingatan atas masa lalu yang sampai sekarang belum mendapat tempat di keadilan. 

Terima kasih Bu Leila sudah menceritakan cerita Laut. Semoga cerita ini tetap menggema sampai generasi seterusnya agar kita menolak lupa bahwa ada suara yang tidak dipulangkan dan luka yang tidak diakui. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seporsi Mie Ayam, dan Alasan Sederhana untuk Bertahan

Animal Farm dan Relevansinya dengan Kondisi Saat Ini