🥀🥀🥀

Kutulis dengan kesedihan dan kemarahan yang menekan sampai ke ubun ubun.

Ojek online sudah menjadi bagian dalam kehidupanku. Sejak 2015 sampai dengan saat ini. Perjalanan jauh, perjalanan pendek, pesan makan, kirim barang, Ojol, adalah andalanku.

Di motor para driver itu aku mendengar cerita mereka, perjalanan hidup mereka, keluh kesah mereka, pencapaian mereka, wejangan dan nasehat mereka. Tidak jarang mereka juga mendengar ceritaku, kadang kami menceritakan bagaimana blundernya pejabat negara ini. Dan akhir akhir ini, para driver sering membicarakan riwayat order akun ku yang sudah 1000+. Aku hanya menyengir dan menjawab "saya customer VIP ya Pak?".

Lalu semalam, dini hari, lini masa media sosialku  memperlihatkan Mas mas Ojol berjaket hijau neon khas itu dilindas oleh mobil rantis lapis baja, oleh personel Brimob yang kata Undang-Undang tugasnya mengayomi rakyat.

Mungkin maksudnya mengayomi pejabat dan membunuh rakyat?

Marah.

Nangis.

Ternyata ini menjadi lebih personal untuk ku.

Mas Affan namanya, 

Apa bedanya aku dengan Mas Affan ? Kami sama sama pekerja, walau dia di aspal, aku di belakang meja, kami berdua sama sama bekerja. Kami sama sama dipajaki negara dari segala lini. Dan pajak kami digunakan untuk menunjang kehidupan dan kehormatan pejabat, membeli mobil lapis baja itu, menggaji polisi yang mengendarainya.

Aku dan Mas Affan hari itu sama sama berusaha menyelesaikan pekerjaan dan sama sama ingin segera pulang ke rumah, karena sama sama punya keluarga yang menunggu.

Belum sempat Mas Affan pulang bertemu ibunya, bahkan orderan customernya belum sempat diselesaikan, yang didapat Mas Affan justru raga yang dilindas mobil lapis baja, yang entah apa tujuannya berlari di antara kerumunan rakyatnya. Diam pun mobil itu gak akan kenapa kenapa kan?

Mas Affan telah berpulang dilindas kearoganan aparat yang harusnya melindunginya. Dipicu keangkuhan pejabat yang hanya bisa mengoceh tanpa pakai otak.

Para pejabat itu seperti biasa akan mengkambinghitamkan "masa yang rusuh" Seperti lupa bahkan rusuh pun kita tetap tidak didengar.

Pejabat tone deaf yang menjadi alasan mereka datang, yang mengatakan rakyatnya tolol dan brengsek, berlindung dengan statement klasik "kami akan dengar apapun aspirasi rakyat" tetapi saat rakyat datang, mereka kabur, kerja dari rumah dengan nyaman (itupun kalau beneran kerja).

Ah, kepala ku sakit sekali.

Ya Allah yang memiliki sebaik baik pembalasan, ku yakini dengan sangat, di akhirat, semua akan adil.

Husnul Khotimah, Mas Affan 🥀

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seporsi Mie Ayam, dan Alasan Sederhana untuk Bertahan

Animal Farm dan Relevansinya dengan Kondisi Saat Ini

Laut Bercerita : Suara yang Tidak Dipulangkan dan Luka yang Tidak Diakui