Bercermin, tentang Fisik atau Akhlak ?

Tadi pagi saya bercermin, bersiap untuk berangkat bekerja. Setelah setengah jalan proses bercermin, baru sadar, yah lupa doa. Langsung saya lafalkan doa ini dan ingat ingat artinya.

الْحَمْدُ للَّهِ اَللّٰهُمَّ كَمَا حَسَّـنْتَ خَلْقِـيْ فَحَسِّـنْ خُلُقِـيْ

"Segala puji hanya bagi Allah. Hanya sebagaimana Engkau telah ciptakan aku dengan baik, maka perbaikilah akhlakku." (HR Ahmad dan At Tirmidzi).

Kemudian saya mulai berpikir mendalam dan menyadari sesuatu tentang doa ini. Coba deh, kebanyakan kita terutama perempuan, kalo sudah bercermin, pasti pernah, kadang, sering, atau malah selalu merasa insecure. Apa aja jadi topik keluhan, ya warna kulit, ya jerawat, ya kerutan, ya pokoknya "kok gua gak secantik Song Hye Kyo" hahaha.

Saya dulu sempat berpikir doa bercermin itu isinya bakal minta wajah yang baik, wajah yang teduh, wajah yang enak dipandang. Tetapi ternyata enggak. Coba saya jabarkan dari sudut pandang saya sebagai orang awam yang terbatas ilmunya :

Kalimat pertama "Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah"
Qodarullah saya minggu lalu sempat mendengarkan tausyiah dari Ust. Arifin Nugroho. Diterangkan bahwa Alhamdulillah adalah pujian kepada Allah bagaimanapun kondisinya, dan tingkat pahalanya berbeda bergantung diucapkan saat kondisi seperti apa, saat mendapat nikmat atau saat mendapat musibah. Lalu relasinya dengan bercermin adalah, ketika kita dapati fisik kita sempurna dan indah, ini jelas untuk mengingatkan kita agar tidak takabur, agar tidak ujub. Segala yang baik pada kita hanya datang dari Allah dan jika Allah mengizinkannya. Jadi harusnya tidak ada ruang untuk kesombongan.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

“Segala puji bagi Allah, dengan kenikmatan dari-Nya menjadi sempurna semua amal kebaikan."

Lalu jika kita dapati fisik kita berkurangan (menurut opini subjektif kita) ketika bercermin, maka ucapan Alhamdulillah justru menjadi ucapan syukur yang lebih tinggi levelnya dari syukurnya orang yang memiliki nikmat tersebut. Nah ini nyambung dengan kalimat doa selanjutnya...

"sebagaimana Engkau telah ciptakan aku dengan baik"

itu malah jadi ngingetin kita. Apapun kondisi luar kita, wajah kita, itu adalah buah cipta sang Maha Cipta, dan itu BAIK, gak ada yang BURUK. Dan tetap wajib disyukuri. Cuma memang masalah kita sebagai manusia itu suka telat mengambil hikmah. Tidak sempat berpikir untuk memahami kenapa ya Allah ciptakan wajah saya begini. Karena pasti, Allah menciptakan sesuatu pasti ada maksud dan tujuannya, dan itu pasti baik dan visioner, berlaku untuk jangka panjang bukan hanya saat ini. Sialnya, kita lebih suka lebih dulu berburuk sangka aja sama Allah.

Jadi pas baca doa itu, yang tadinya ngerasa insecure, jadi kaya diingetin "udah, gak usah ngerasa insecure, banyakin bersyukur. Elu itu diciptakan Allah dengan baik, dan untuk masuk ke Jannah Nya, Allah gak menilai wajah lu. Jangan haus validasi manusia, karena tidak akan ada ujungnya selain kekecewaan". Harusnya jadi tenang dong ya.

Gak cuma sampai disitu, kalimat doa selanjutnya adalah

"...maka perbaikilah akhlakku"

Ini seperti menegaskan, setelah kita meyakini bahwa bagaimanapun bentuk wajahmu, itu baik, karena Allah yang ciptakan, lalu ditegaskan bahwa justru yang perlu kita khawatirkan rupanya, bentuknya, adalah AKHLAK. Karena cerminan seorang muslim sesungguhnya itu terlihat dari bagaimana akhlaknya, akhlak kepada Rabbnya, akhlak kepada keluarga, kepada masyarakat, kepada lingkungan, itu. Coba deh bayangin, ada perempuan yang dinominasikan tercantik sekecamatan, tetapi kita lihat dia ngomong kasar, berlaku kasar ke orang lain, melakukan hal hal yang buruk, lalu apa yang tersisa dari kecantikannya itu ?

Jadi inti dari doa bercermin ini bukan minta wajah secantik Song Hye Kyo atau seganteng Gojo Satoru (apalagi ini 2 dimensi T.T). Doa ini justru minta agar Allah memberikan kita akhlak yang baik, sebagaimana Allah sudah kasih kita tubuh dan wajah yang baik. Berarti Allah ciptakan wajah dan tubuh kita itu sudah mutlak baik, terlepas dari apapun opini subjektif kita (ingat, kita manusia yang suka telat memahami hikmah), tinggal kewajiban kita untuk menjaga dan merawatnya.

Sehingganya yang kita mohonkan saat bercermin adalah agar Allah selalu senantiasa menghiasi kita dengan hati dan akhlak yang baik, tujuannya ya supaya kita selamat di dunia dan di akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad no. 8952 dan Al-Bukhari dalam Adaabul Mufrad no. 273. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Adaabul Mufrad.)

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1941. Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 2201.)

Wallahu'alam 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seporsi Mie Ayam, dan Alasan Sederhana untuk Bertahan

Animal Farm dan Relevansinya dengan Kondisi Saat Ini

🥀🥀🥀