Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

Sudut Pandang

Waktu sekolah, di Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, saya pernah belajar tentang bagaimana menentukan sudut pandang dalam sebuah cerita. Ada 6 jenis sudut pandang, dengan lebih banyak lagi pembagian di setiap jenisnya. Tetapi yang menjadi perhatian saya hanya dua. Sudut pandang orang pertama, dimana penulis fokus kepada sudut pandang sebagai "Aku", baik sebagai tokoh utama atau tokoh sampingan. Sedangkan sudut pandang orang kedua, dimana penulis sebagai narator yang mendiktekan lakon "Kamu". Waktu kuliah saya baru sadar bahwa sudut pandang tidak hanya ada dalam sebuah karya sastra. Tetapi harus ada dalam sebuah kehidupan. Wabilkhusus dalam menentukan sudut pandang dalam menjalani peran. Akhir-akhir ini saya (juga baru sadar) bahwa mungkin saya, kita, sering lupa dimana meletakkan sudut pandang dalam peran yang sedang dilakoni. Tidak jarang, kita menggunakan sudut pandang orang kedua, fokus kepada "Kamu" alias fokus kepada orang lain, atau lebih tepatnya ...

Seharusnya

Qodarullah. Siapa yang kira 2020 kita hadapi bersama pandemi. Qodarullah. Banyak rencana batal ya ? Iya. Mudik ? Iya, betul. Tiket sudah di- refund semua. Harus ikhlas tidak berlebaran bersama orang tua tahun ini. Qodarullah. Sampai suatu hari, dimana "yang seharusnya" adalah hari keberangkatan kami ke Tuban menaiki Kereta Api, tidak hanya sekali saya ngebatin... "Seharusnya udah di kereta nih jam segini" Tetapi setelah ngebatin saya merasa ada yang salah. Ada yang salah dengan apa yang saya pikirkan saat ini. Baru saya sadar, bahwa saya tidak punya hak untuk berkata "seharusnya" "Seharusnya" menurut siapa ? Apakah saya punya kuasa menentukan kapan saya pergi, kapan saya pulang ? Baik, secara teknis memang iya. Tetapi, saya seakan lupa, bahwa saya hanya manusia dalam kuasa Zat Maha Kuasa. Sedih memang jika rencana tidak berjalan sesuai harapan, tetapi dengan mengatakan "seharusnya" , seakan saya tidak ridho atas apa yan...